Percakapan Tukang Bubur dan Tukang Yamin

Setiap orang dapat menarik kesimpulan yang berbeda-beda setelah membaca cerita ini, yang endingnya akan bermuara pada satu pikiran yang sama :)

Tiga orang datang ke gerobak yamin, salah satunya bertanya, “Ini orangnya mana?” sambil menunjuk gerobak yamin. Pemuda yang sedang jongkok membaca jadwal pertandingan bola dibelakangku menyahut, “gak ada mas, belum buka”. Penjual Bubur bilang ke si pemuda, “elu sih dateng gak langsung buka, malah baca koran dulu”. Mendengar hal itu, para calon pembeli jadi tahu bahwa pemuda yang jongkok tadi adalah orang yang mereka cari  (Penjual Yamin). Pergilah mereka ke lapak lainnya.

Percakapan berlanjut…

“Rejekinya dipatok ayam tuh”, Ibu penjual bubur membuka obrolan sambil melayani pesanan.
“Udah 5 orang dateng tapi gak gua layanin” kata si penjual yamin. “Bukannya nolak rejeki, cuman belum beres2 aja (gerobak masih terlipat)”, lanjutnya.

Kami hanya tersenyum…

Penjual Bubur, “ya udah sarapan bubur dulu”.
Penjual Yamin, “ngaso dulu lah capek soalnya harus bongkar, belum nanti ngepel”.
Penjual Bubur, “biasanya juga sarapan dulu baru buka lapak” :) .

Sepanjang menikmati bubur buatan ibu tadi, pendengaran kami dihibur oleh penjual yamin yang tak henti-hentinya ngomong sendiri. :) Penjual yamin beberapa kali menelepon dengan suara yang lantang, memungkinkan orang disekelilingnya mendengar percakapannya. Singkat cerita isi percakapannya seputar bola, tim mana, jam pertandingan, tuan rumah, ngepur, berapa taruhannya, deal. “Makanya beli koran dong” salah satu yang dia bilang ke lawan bicaranya di telepon.

Selesai menelepon, penjual yamin kembali berbicara sendiri, “kalau cuma ngandelin jualan, bisa dapet apa? mending main liga kodok (taruhan), kalau dapet, sehari bisa 1 juta, ya gak?”.
Penjual bubur bertanya, “emang kemarin dapet berapa?”.

Penjual yamin seperti mengigau sendiri, “kemarin orangnya gak jadi setor, jadi gue nombok deh gopek”, “kemarin gara-gara em yu gue harus minjem buat nombokin, gopek”, ….. dan begitulah igauannya berlanjut dengan cerita kegagalan yang lebih sering dialaminya daripada kemenangan dalam bertaruh.

Semangkok bubur sudah habis, “berapa bu?”. “Delapan ribu mas”, jawabnya.
Seusai membayar, diriku kembali dengan segudang tekad untuk menuliskan cerita ini :)

Setiap orang dapat menarik kesimpulan yang berbeda-beda setelah membaca cerita ini, yang endingnya akan bermuara pada satu pikiran yang sama :)

17 comments on “Percakapan Tukang Bubur dan Tukang Yamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s